Tanggal 29 Juni memiliki arti bersejarah penting bagi kota Jogja dan juga negara Indonesia. Pada tanggal tersebut di tahun 1949 adalah waktu dimana sebagai realisasi dari Konferensi Meja Bundar, Pemerintah Kerajaan Belanda menarik resmi pasukannya yang tengah menduduki Jogjakarta, Ibukota Republik Indonesia pada waktu itu. Untuk mengenang hari kemenangan perjuangan Negara Republik tercinta ini, Podjok bekerjasama dengan Ipphos (Indonesian Press Photo Service) menyelenggarakan ritual khusus sebagaimana diliput oleh Harian Kedaulatan Rakyat Minggu 29 Juni 2008 sebagai berikut:
Pada Hari Minggu Malam 22 Juni 2008 jam 19.00-20.00, Podjok diundang dalam Acara Talk Show yang diselenggarakan oleh Radio Istakalisa FM Yogyakarta. Podjok dalam kesempatan ini diwakili oleh tiga Kerabat yakni Kang Towil, Bung Johnny dan Kang Sahid. Acara selama 60 menit ini berlangsung cukup seru, Penyiar Istakalisa menanyakan berbagai hal mengenai profil keorganisasian Podjok baik mengenai misi, tujuan, program kegiatan dan keanggotaan yang kemudian dijawab dengan tangkas oleh Kang Towil cs. Dalam acara tersebut, banyak respon positif yang diberikan oleh masyarakat Jogja melalui telpon dan sms. Terima kasih Radio Istakalisa FM, semoga semakin banyak orang yang akan terkena virus onthel setelah mendengarkan talk show tersebut. (Liputan Sahid Nugroho).
#1 Suasana dalam studio pemancar
Sambung rasa kali ini hadir di kota kediri dalam rangka ulang tahun emas salah satu produk di kota ini 15 juni 2008, fun bike sepeda . Onthel juga ada di dalamnnya. Persiapan sebelum melintas di kota kediri dengan penuh keramahan dan senyum sapa kita jalin sesama onthelis di indonesia. DUTA PODJOK di tengah tengah onthelis .

klitikan klitikan itu ada di sini
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 5 Juni lalu, Pengurus Podjok berinisiatif untuk melakukan moral suasion (himbauan moral) kepada Pemprov, Pemkab dan Pemkot di lingkungan DI Yogyakarta melalui Surat Terbuka yang dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Tanggal 10 Juni 2008. Berikut ini kutipan naskah surat tersebut:
SURAT TERBUKA DARI PODJOK: YOGYA RAMAH SEPEDA
Yth. Bapak Gubernur, Bupati dan Walikota
Di Lingkungan DI Yogyakarta
Dengan hormat.
Bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Tanggal 5 Juni ini perkenankan kami Paguyuban Sepeda Onthel Djogdjakarta (Podjok) menyampaikan aspirasi sebagai berikut. Mensikapi biaya energi yang semakin mahal dan ancaman fenomena global warming yang semakin nyata, kami memohon Pemerintah-Pemerintah Daerah setempat untuk mulai memberikan dukungan riil bagi para pengendara sepeda di lingkungan DI Yogyakarta yakni dengan memberikan jalur resmi sepeda pada jalan-jalan utama. Selama ini kami secara rutin aktif berkampanye untuk mengajak masyarakat Yogyakarta untuk kembali bersepeda, namun upaya kami relatif menjadi sia-sia karena tidak adanya jalur sepeda yang memfasilitasi para pengendara sepeda untuk bisa bersepeda secara aman, sehingga niat baik masyarakat untuk kembali bersepeda seringkali terhalang oleh persepsi resiko keselamatan di jalan.
Keberadaan jalur sepeda resmi bukanlah sekedar sebuah fasilitas umum, tetapi akan menjadi simbolisasi komitmen Pemerintah Daerah dalam menginisiasi perubahan gaya hidup masyarakat agar menjadi lebih mandiri, hemat energi, ramah lingkungan dan sehat. Jalur resmi sepeda sebisa mungkin tidak sekedar berbentuk cat jalan yang biasanya akan mudah dilanggar oleh semua kendaraan bermotor, tetapi ada semacam marka jalan permanent yang secara tegas melindungi pengendara sepeda. Kami juga mengusulkan adanya hari bebas kendaraan bermotor pada kawasan Malioboro dan sekitarnya pada setiap hari Minggu pertama di setiap bulannya, sebagai kampanye positif perubahan gaya hidup masyarakat sebagaimana yang sudah diterapkan di DKI Jakarta.
Sudah saatnya Pemerintah Daerah berbuat sesuatu untuk masa depan DI Yogyakarta yang lebih baik. Permasalahan krisis energi dan global warming adalah sesuatu yang perlu diantisipasi sejak sekarang secara serius. Kami sangat mengapresiasi suri teladan yang dulu pernah diberikan Bapak Gubernur DIY Sri Sultan HB X yakni setiap Hari Jumat selalu menggunakan sepeda ke kantor Gubernur DIY. Kemudian, kami juga menyambut gembira, ketika mendengar mulai minggu ini Pihak Pemkot Yogyakarta mulai mewajibkan pegawai di lingkungan Pemkot Yogyakarta dengan jarak lokasi rumah kurang dari 3 Km untuk menggunakan sepeda saat ke kantor. Semoga hal-hal positif tersebut menjadi semacam budaya baru yang berlangsung secara berkesinambungan di kalangan masyarakat yakni Hari Jumat sebagai Hari Bersepeda. Kita coba bersama-sama mengembalikan roh DI Yogyakarta sebagai kawasan ramah sepeda sebagaimana yang pernah terjadi pada masa lalu.
Terima kasih atas perhatiannya, semoga berkenan atas hal-hal yang kami sampaikan.
Salam hormat,
Towil
Ketua Paguyuban Othel Djogdjakarta
Pukul 6.30 satu persatu kerabat podjok mulai berdatangan di kawasan nol kilometer. Tidak seperti biasanya yang selalu berkumpul di depan Pagelaran Kraton Jogja, kali ini tempat berkumpul - sebelum agenda ngonthel mubeng negoro dimulai - adalah di depan monumen 1 maret, karena hari itu alun-alun utara digunakan untuk kegiatan salah satu parpol. Kali ini agenda ‘Ngonthel mubeng negoro’ mengambil tujuan ke pasar godean, pasar yang dulu merupakan salah satu basis perdagangan sepeda onthel di kawasan Jogja dan sampai sekarang masih ada.
Rombongan diberangkatkan pukul 7.30. Tujuan pertama adalah bengkel resmi podjok ‘bengkel Mbah Ngatijo’, disana sudah menunggu Mbah ngatijo dan Cucunya. Setalah beberapa saat bersilaturahmi, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pasar sepeda godean yang mengambil rute melewati sawah-sawah dipinggiran kota Jogja.
Rombongan kerabat pojdok yang berjumlah +- 50 sepeda begitu manarik perhatian masyarakat didaerah tersebut. Hawa yang sejuk dan semilir angin persawahan membuat perjalanan menjadi terasa mengasyikan dan tidak melelahkan. Sampai akhirnya rombongan melewati palang pintu rel kereta api dan terjadi insiden kecil, dimana dinamo lampu salah seorang kerabat podjok masuk kedalam jeruji roda karena terperosok kedalam lubang jalan, namun bisa segera diatasi dan melanjutkan kembali perjalanan.
Sesampainya di Pasar Godean, beberapa kerabat pojdok mulai menyerbu jajanan pasar yang ada disana namun ada juga sebagian yang langsung menyebar ke beberapa pedagang onderdil sepeda tua untuk mencari “harta karun”. Setelah beberapa saat menikmati suasana sambil menikmati secangkir kopi/teh/sekoteng dan belut goreng, akhirnya rombongan melanjutkan perjalanan untuk menjengukPak Prabowo - kerabat podjok yang terbaring sakit - dan dilanjutkan untuk kembali kerumah masing-masing.
Untuk Pak Prabowo, semoga lekas sembuh, bisa kembali beraktivitas dan bisa kembali ketengah-tengah keluarga besar podjok untuk bersepeda bersama. Amin.
Menunggu kerabat yang lain
Fongers mania