Jun 24

 Sepeda Fongers saat ini memang sedang naik daun. Sepeda yang dulu barangkali menjadi pilihan ke 3 setelah Gazelle dan Simplex, telah naik peringkat menjadi target buruan utama. Fenomena ini sejalan dengan apa yang terjadi di Belanda negara asalnya, dimana sepeda, aksesori dan onderdil Fongers justru lebih mahal dibanding sepeda merek sepeda lainnya.  Barangkali pencerahan yang dilakukan oleh Prof. Koopmans, Prof. Jos dan tentu saja Prof. Andyt telah memberi pencerahan kepada kita bahwa sepeda Fongers sesungguhnya memang sebuah a valuable & collectible item.

Dalam rangka memberikan apresiasi pada sepeda Fongers, dalam kesempatan Test Ride kali ini, saya ingin menampilkan sosok sepeda Fongers DZ 60 produksi tahun 1922. Seri DZ menurut situs www.oudefiets.nl pada era produksi tahun 1920-an adalah kategori sortir ke tiga, setelah seri BB/BD (kategori sortir A) dan seri CCG/BDG (kategori sortir B). Sepeda ini memiliki nomer rangka 2237-81 yang memiliki makna yakni angka 22 menjelaskan sepeda ini dibuat pada tahun 1922, kemudian angka 37 menunjukkan kode produksi untuk seri DZ, dan terakhir angka 81 menerangkan nomer urut produksi ke-81. Nomer rangka sepeda Fongers memang singkat, padat dan sangat jelas he..he..he..

2009june24n071.JPG

#1 Penampakan dari samping, terlihat sangat klasik.  Secara umum sepeda ini memiliki bobot cukup ringan sekitar 18 Kg, dibandingkan dengan sepeda dames sejenis yang beratnya sekitar 20 Kg.  Jarak antara setang dan tempat duduk sangat rapat, sehingga relatif menyulitkan bilamana sepeda ini dikendarai oleh seorang pria tinggi besar.

Pancal Mas »

Jun 11

Sabtu pagi 6 Juni merupakan hari istimewa bagi para pecinta sepeda di Jogja. Pada hari itu Walikota Jogjakarta Drs. Herry Zudianto, MM, Akt meresmikan pendirian rambu-rambu jalur sepeda di Jogja. Memang jalur sepeda yang dimaksud bukanlah jalur sepeda secara riil sebagaimana yang masih terlihat di kota Klaten dan Solo, tetapi jalur alternatif untuk para pesepeda dengan memanfaatkan jalan-jalan kampung di kota Jogja. Rambu-rambu jalur alternatif sepeda sekitar 400 buah akan dipasang diseputar kota Jogja.

Meskipun hanya jalur alternatif, tetapi inilah hari bersejarah dimulainya komitmen riil dari Pemkot untuk para pesepeda Jogja. Walikota dalam kesempatan acara peresmian tersebut,  menegaskan bahwa pembangunan jalur sepeda sesungguhnya bukan sekedar untuk memfasilitasi wisata nostalgik atau heritage, tetapi benar-benar merupakan bentuk kepedulian masyarakat Jogja untuk ikut berperan dalam mengatasi masalah global warming. Banyak manfaat positif yang bisa didapat bila semakin banyak orang mau bersepeda. Badan menjadi lebih sehat, bumi menjadi lebih sejuk, dan devisa negara lebih bisa dihemat. Bayangkan bahwa kita sesungguhnya menghabiskan Rp 5.000,- dana subsidi dari APBN untuk per liter konsumsi BBM yang kita gunakan.

Keluarga besar Podjok dalam kesempatan ini memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Herry Zudianto, MM, Akt. yang selama ini telah memberikan teladan dan komitmen pribadi yang sangat luar biasa untuk membangkitkan kembali budaya bersepeda di Jogja melalui Program Sega Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah & Nyambut Gawe). Kita awali kali ini dengan jalur alternatif dulu, untuk kemudian pada masanya nanti akan benar-benar ada jalur riil untuk sepeda di kota Jogja. You never ride alone…fresh our planet with less carbon life style (Liputan Sahid Nugroho)

2009june6077.JPG

Potret bersama di Gang Tohpati Jalan Taman Siswa seusai pemasangan rambu

2009june6044.JPG

Walikota yang low profile dan sangat dibanggakan oleh masyarakat Jogjakarta