Dec 28

Hujan basahi sore itu 27 Desember ‘09 tak menggentarkan nyali nyali sang penunggang kuda besi dari negeri seberang. “Always Save Our Culture” PODJOK with KATON BAGASKARA, dua nama berbeda namun punya andil nyata untuk JOGJAKARTA TERCINTA.. budaya bersepeda, budaya di seni lainnya.. KENTAL, TEGAS, PAS, RASA JOGJA, SELARAS, perpaduan di antara keduanya. PODJOK ngonthel bareng KATON BAGASKARA mempunyai arti penting, di kala hujan menyapa, alam pun gembira riang turut serta.

untukmu JOGJA..

(Towil PODJOK Jgjakarta)

 

 #1 Keakraban tak membedakan kita siapa, namun kapan ngonthel bersama lagi…

 #1 Keakraban tak membedakan kita siapa, namun kapan ngonthel lagi…

dsci0032.JPG

#2 KAMPUS BIRU SEBIRU LANGIT KITA..KUPUNYA BANYAK CITA-CITA..

dsci0037.JPG

#3 TOWIL dan KATON saling incip-incip sepeda Onthel The Gruno dan sepeda lipat Birdy, keasyikan tiada tara.. tetep tak bisa pindah ke lain hati.

 dsc00317.JPG

#4 SIMBOL KERABAT PODJOK sekaligus KATON BAGASKARA menjadi Kerabat Podjok Kehormatan. karena visi yang tak berbeda.. AYOO KAYUH BERSAMA..

dsci0041.JPG

Semakin Nyata Kita Tak Berbeda. KERAMAHAN JOGJA. KERAMAHAN KITA.

Dec 28

Ketika waktu memasuki saat Malam 1 Suro, maka di seputaran Pulau Jawa akan banyak bermunculan ritual-ritual budaya tertentu seperti mubeng beteng tapa bisu, jamasan pusaka, doa bersama, dan selamatan sebagai bagian dari pelestarian adat-istiadat masyarakat Jawa yang memiliki apresiasi cukup tinggi pada pergantian Tahun Baru Jawa 1 Suro 1943 Dal sekaligus juga merupakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H tersebut. Dan khusus tahun 2009 ini ternyata memiliki makna cukup istimewa, karena dilihat dari sistem penanggalan Jawa, kita memasuki tahun Dal yang sungguh memiliki kedudukan istimewa di antara siklus tahun-tahun Jawa yang berlaku.

Pada hari Kamis 17 Desember 2009, Podjok sebagai komunitas yang juga memiliki platform pelestarian budaya leluhur, tentu saja tidak ketinggalan untuk melakukan ritual khusus dalam konteks dunia sepeda onthel yakni Acara Jamasan Sepeda. Podjok sebagai warga Jogja, turut hadir dalam puncak peringatan Malam 1 Suro yang dipusatkan di lokasi depan Pagelaran Kraton Kasultanan Yogyakarta yang mulai ramai didatangi masyarakat dari berbagai penjuru daerah mulai jam 21.00 WIB. Ketika prosesi upacara doa bersama pemberangkatan acara mubeng beteng yang dilakukan para tokoh lokal kota Jogja selesai dilaksanakan, maka Podjok kemudian langsung memulai Acara Jamasan Sepeda yang dimulai menjelang tengah malam tersebut.

Acara yang dikemas secara sederhana ini, diawali dengan persiapan uba rampe jamasan oleh Mbah Santosa berupa air kembang setaman yang dituang dalam guci kuningan kecil, kemudian disusul pembacaan puisi oleh Kang Towil mengenai “penghormatan sepeda sebagai sesuatu yang sangat berguna”, seusainya kemudian, acara jamasan dimulai dengan memercikan air kembang ke setiap sepeda Kerabat Podjok yang hadir oleh Mbah Santosa, sebagai simbol penghormatan pada sepeda yang telah berjasa banyak dalam episode kehidupan para pemiliknya. Sepeda juga bisa dianggap sebagai salahsatu pusaka kehidupan karena memiliki manfaat yang luarbiasa besar untuk proses cipta, rasa, karsa dan karya kehidupan sehari-hari sebagaimana disuratkan dalam motto “Onthel iku migunani kagem sedaya”.

Ritual ini bukanlah sebuah proses pemujaan benda mati yang berbau klenik, tetapi merupakan bagian dari kampanye stop global warming yang dikemas dalam bentuk acara budaya lokal. Mengajak masyarakat kembali bersepeda dilakukan dengan mengangkat kedudukan sepeda sebagai salah satu pusaka kehidupan. Podjok sesuai visinya, berusaha mengembalikan lagi roh budaya Jawa dalam kesempatan-kesempatan kontekstual agar “Wong Jawa ora ilang Jawa-ne”. Budaya adalah peninggalan adiluhung dari para leluhur yang tidak mungkin diciptakan secara sembarangan, sehingga kita sebagai generasi pewaris berkewajiban untuk melestarikannya. (Liputan dan Potret: Sahid Nugroho).

2009dec19n011.JPG

#1 Ritual Mubeng Beteng - Tapa Bisu oleh Warga Jogja

Pancal Mas »