Dec 28

Ketika waktu memasuki saat Malam 1 Suro, maka di seputaran Pulau Jawa akan banyak bermunculan ritual-ritual budaya tertentu seperti mubeng beteng tapa bisu, jamasan pusaka, doa bersama, dan selamatan sebagai bagian dari pelestarian adat-istiadat masyarakat Jawa yang memiliki apresiasi cukup tinggi pada pergantian Tahun Baru Jawa 1 Suro 1943 Dal sekaligus juga merupakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H tersebut. Dan khusus tahun 2009 ini ternyata memiliki makna cukup istimewa, karena dilihat dari sistem penanggalan Jawa, kita memasuki tahun Dal yang sungguh memiliki kedudukan istimewa di antara siklus tahun-tahun Jawa yang berlaku.

Pada hari Kamis 17 Desember 2009, Podjok sebagai komunitas yang juga memiliki platform pelestarian budaya leluhur, tentu saja tidak ketinggalan untuk melakukan ritual khusus dalam konteks dunia sepeda onthel yakni Acara Jamasan Sepeda. Podjok sebagai warga Jogja, turut hadir dalam puncak peringatan Malam 1 Suro yang dipusatkan di lokasi depan Pagelaran Kraton Kasultanan Yogyakarta yang mulai ramai didatangi masyarakat dari berbagai penjuru daerah mulai jam 21.00 WIB. Ketika prosesi upacara doa bersama pemberangkatan acara mubeng beteng yang dilakukan para tokoh lokal kota Jogja selesai dilaksanakan, maka Podjok kemudian langsung memulai Acara Jamasan Sepeda yang dimulai menjelang tengah malam tersebut.

Acara yang dikemas secara sederhana ini, diawali dengan persiapan uba rampe jamasan oleh Mbah Santosa berupa air kembang setaman yang dituang dalam guci kuningan kecil, kemudian disusul pembacaan puisi oleh Kang Towil mengenai “penghormatan sepeda sebagai sesuatu yang sangat berguna”, seusainya kemudian, acara jamasan dimulai dengan memercikan air kembang ke setiap sepeda Kerabat Podjok yang hadir oleh Mbah Santosa, sebagai simbol penghormatan pada sepeda yang telah berjasa banyak dalam episode kehidupan para pemiliknya. Sepeda juga bisa dianggap sebagai salahsatu pusaka kehidupan karena memiliki manfaat yang luarbiasa besar untuk proses cipta, rasa, karsa dan karya kehidupan sehari-hari sebagaimana disuratkan dalam motto “Onthel iku migunani kagem sedaya”.

Ritual ini bukanlah sebuah proses pemujaan benda mati yang berbau klenik, tetapi merupakan bagian dari kampanye stop global warming yang dikemas dalam bentuk acara budaya lokal. Mengajak masyarakat kembali bersepeda dilakukan dengan mengangkat kedudukan sepeda sebagai salah satu pusaka kehidupan. Podjok sesuai visinya, berusaha mengembalikan lagi roh budaya Jawa dalam kesempatan-kesempatan kontekstual agar “Wong Jawa ora ilang Jawa-ne”. Budaya adalah peninggalan adiluhung dari para leluhur yang tidak mungkin diciptakan secara sembarangan, sehingga kita sebagai generasi pewaris berkewajiban untuk melestarikannya. (Liputan dan Potret: Sahid Nugroho).

2009dec19n011.JPG

#1 Ritual Mubeng Beteng - Tapa Bisu oleh Warga Jogja

2009dec19n019.JPG

#2 Mbah Santosa siapkan uba rampe

2009dec19n036.JPG

#3 Kerabat Podjok yang hadir

2009dec19n039.JPG

#4 Pembacaan Puisi Sepeda oleh Ketua Podjok

2009dec19n041.JPG

#5 Jamasan sepeda sedang dilaksanakan

2009dec19n044.JPG

#6 Tim Penjamas Sepeda: Mbah Santosa & Yu Atik

2009dec19n052.JPG

#7: Prosesi budaya dengan bersepeda oleh Komunitas lainnya.

11 Responses

  1. towil Says:

    terimalasih kepada segenap masyarakat jogja,Podjok hadir dan bisa menjawab semua yang ada
    ayoo kembali bersepeda adalah ajakan kami sebenarnya bahwa sepeda perlu di rawat di pergunakan kembali dengan berbagai fungsi
    salam dari kami kerabat podjok

    towil

  2. vembri_jogja Says:

    tadi siang saya berita di kompas.com kalau di Fukuoka Jepang juga sedang digalakan jalur sepeda…memang salut dengan masy Jepang yang masih menghargai dan tidak gengsi bersepeda padahal negara tersebut teknologinya khususnya otomotif sangat maju tetapi masih saja masy Jepang mencintai bersepeda..Mengapa kita tidak seperti mereka?

  3. onthelkota.wordpress.com Says:

    Selamat dan Sukses untuk acaranya.
    @ mas Towil
    semoga kepemimpinan mas Towil di PODJOK dapat menginspirasi komunitas lain.

    salam kenal
    rudie_KOTA

  4. Handiko Says:

    Whaaa.. kliatannya acaranya asik tuch.. ^,^

    yups bner.. Cz
    Bangsa yang hebat adlah bangsa yang slalu mngenang & menghargai sejarah bngsanya.

    terus semangat yaa…
    (^o^)

  5. towil Says:

    @ pak handiko,mas vembri,onthel kota…INI TAK SEBANDING apa yang telah di berikan kepada kita semua…ayo isi dan tumbuh kembangkan.
    salam

  6. handiko Says:

    yups.. tetep lestarikan budaya indonesia..
    smpai luar negri
    huehehe…
    ^_^

    SMAANGAT SLALUU…

  7. heri agusti Says:

    mbah santosa, …duh jadi inget ki joko bodo, jadi tambah sakral
    , nyai loro kidul dateng nggak ya ? salam takzim dari agusti defoc

  8. handiko Says:

    haluuu.haluu…
    hehehe..
    klu di inget2 kyak pnyanyi Gombloh..
    kurang tinggi dkit..
    ^^

    Tetep smangaaat…
    Slam Onthel dri Srabaya..
    Kriiing…kriiing..

  9. Prio jatmiko Says:

    Salam Onthel dan salam kenal bagi para ketua dan pengurus PODJOK..salut saya ucapkan kepada PODJOK yg saya lihat telah mengapresiasikan semua jenis sejarah & budaya JOGJA khususnya didunia onthel..ketertarikan saya terhadap dunia onthel krna onthel yg sangat melegenda di Indonesia khususnya pulau jawa..menjawab ketertarikan saya tersebut akhirnya saya mempunyai sepeda onthel 3..yg 2 tdk terdapat merk dan yg 1 merk Batavus seri 13xxxx dan masuk anggota PIETS Taman Mini yg diketuai Bapak Letkol Yasa..Semoga PODJOK tmbh sukses dlm melestarikan dunia onthel di Indonesia khususnya di Jawa-Jogja..salam onthel..Prio Jatmiko-Depok 2 Tengah-anggota PIETS Taman Mini

  10. sahidnugroho Says:

    Terima kasih Pak Prio atas apresiasinya. Salam kenal dan salam sepeda. Nuwun.

  11. faza Says:

    hahaha……. sip

    gambarnya ada yang lucu

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.