Mangut Lele Mbak Marto

Salah satu makanan yang bikin kangen Yogya adalah mangut lele asap. Ya makanan sederhana dari Bantul yang diracik langsung oleh mbah Marto. Kesederhanaa dan ketulusan citarasnya justru bikin orang ingin kembali lagi.

Warung Mangut Lele Mbah Marto atau Mangut Lele Mbah Marto Nggeneng terletak di sebuah gang kecil sebuah Dusun Nggeneng di Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul.

Letak dusun Nggeneng, Taraban ataupun Nengahan saling berdekatan. Namun dulunya banyak warga dusun di sekitar Nggeneng yang berjualan makanan keliling berjalan kaki mulai sore hingga malam hari ke Yogyakarta. Masyarakat pun mengenal makanan yang dijual dari kampung ke kampung itu kemudian di kenal dengan sebutan Sego (nasi) Nggeneng.

Seiring dengan kemajuan zaman, para penjual sego Nggeneng ini mulai berkurang. Sedangkan Mbah Marto kemudian meneuskan usahanya dengan tetap berjualan di rumahnya. Pelanggan yang mengenalnya pun sekarang ini langsung menikmati di rumah Mbah Marto

Letak warung Mangut Lele Mbah Marto di belakang Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) di Jl Parangtritis, Km 6,5 Sewon. Dari Jl Parangtritis tepatnya di Kantor Pos Sewon belok ke kanan mengikuti jalan aspal Dusun Taraban. Setelah itu ada pertigaan pertama belok ke kanan mengikuti jalan kecil kampung tersebut

Warung Mbah Marto menghadap ke selatan dan di depan rumah ada sumur. Meski agak tersembunyi atau berada di tengah kampung dengan gang sempit, Namun bila siang hari selalu ramai dengan mobil yang diparkir. Kalau bertanya pada warga sekitar, pasti akan ditunjukkan letak warung tersebut.

Di teras dan ruangan dalam rumah dijadikan tempat santap pelanggan. Sedangkan dapur dengan deretan tungku kayu bakar menjadi tempat pelanggan mengambil aneka lauk pauk.

Jadi tak ada ruang khusus untuk makan seperti warung makan. Pelanggan bisa langsung ke area dapur. Tentu saja aroma wangi makanan yang sedang dimasak bisa dihirup langsung.

Lauk-pauk yang selesai dimasak langsung ditaruh dalam baskom-baskom bercorak hijau putih diletakkan berderet di amben atau balai-balai bambu. Wah, dijamin bakal bingung menentukan pilihan

Selain mangut lele, gudeg, sambel krecek, garang asem, oseng-oseng daun pepaya dan opor ayam dan tahu. Tumpukan piring dan bakul berisi nasi putih diletakkan di salah satu sisinya.

"Monggo mendhet piyambak (silakan ambil sendiri-red)," kata Mbah Marto mempersilakan para tamunya yang berada di dapur.

Setelah mengambil nasi sendiri barulah memilih lauk-pauk yang semuanya menggiurkan. Yang wajib dicicip tentu saja mangut lele. Oseng daun pepaya juga terkenal sedap karena tidak pahit. Sambal goreng kreceknya juga menggoda. Potongan krecek yang besar, kacang tolo, kulit melinjo dengan kuah santan yang cokelat kental.

Berbeda dengan mangut di daerah Jawa lain yang berkuah kuning kemerahan, mangut racikan mbah Marto berwarna merah menyala menggiurkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FORGOT PASSWORD ?
Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.
We do not share your personal details with anyone.